Saat Jumpa dengan Kata-Kata

Saat inilah, saat yang kunantikan. Bukan karena telah mencapai sesuatu, ataupun menyelesaikan sesuatu. Banyak hal yang belum selesai, banyak sekali. Nanti saja, mereka bisa menunggu. Tetapi, di saat seperti inilah aku selalu merasa senang. Selalu ada ruang untukmu di hati dan otakku, wahai kata-kata. Meski kita tak selalu bersua setiap saat, tapi kau selalu mengunjungiku di saat yang tepat.

Aku memang tak jago dalam membuat selebrasi untuk menyambutmu. Aku tak mampu sampai membuat pesta dengan meletuskan untaian mercon berupa picisan untuk merayakan kedatanganmu. Sudahlah, apa adanya saja. Biarkan semua mengalir dengan tanpa ada hambatan, tanpa banyak aturan.

Kata Arswendo, mengarang itu mudah. Masa bodoh! Tentu saja itu berlaku baginya. Atau bagi orang-orang yang sudah terlatih. Tapi bagiku, tidak sama sekali. Aku selalu sejalan dengan buah pikiran Pram, bahwa “menulis adalah sebuah keberanian”. Keberanian untuk jujur dalam mengonversi rasa menjadi cipta, merekam titik dalam hidup menjadi untaian huruf. Menimbulkan keberanian adalah hal yang sulit, tidak semudah mengucapkannya, butuh proses.

Kemudian di saat inilah rasa kagumku kepada penulis-penulis besar di masa yang lalu membuncah. Mereka yang berani menuangkan ide liarnya, pikiran-pikiran yang meracau ke sana kemari, namun mampu mereka gubah menjadi ciptaan-ciptaan yang masyhur, mampu menginspirasi jutaan manusia lain. Sungguh betapa besar afeksi yang mereka sematkan dalam setiap hurufnya, betapa dekat hati mereka dengan penikmatnya, bahkan lebih dekat dibandingkan jarak spasi antar kata-katanya.

Entahlah, kau boleh bilang ini pelarian. Aku merasa ini sebuah kebutuhan. Hasrat muncul tiba-tiba, tanpa ada aba-aba. Aku tidak berpikir untuk mengundangmu malam ini, kata-kata. Sejujurnya aku ingin sendiri malam ini. Namun ternyata aku tak bisa benar-benar sendiri. Kesendirian memang penuh misteri. Ia menyimpan sepi, namun di sisi lain ia mengundang hal lain yang tak bisa menunggu hingga besok pagi.

Saat inilah, saat yang kunantikan. Momen yang tepat untuk mencatat. Tanpa ada maksud apa pun selain merangkai kalimat. Tanpa ada niat dan usaha menggatra Hindia, melainkan Indonesia.

Terima kasih, Pram!

21 Juni 2018

Summer Solstice; Malam di mana Argentina mengalami mimpi buruk di tangan Kroasia.

Advertisements

Pasar Pagi Hari

firdaus-roslan-595967-unsplash

Photo by Firdaus Roslan on Unsplash

Di hiruk pikuk pasar becek pagi hari:

dijejali puluhan becak yang tetap menunggu untuk dinaiki

dan aku berjalan menggenggam tangan ibu untuk berbakti.

 

Di hiruk pikuk pasar becek pagi hari:

dijejali aroma sayur busuk yang ditata dengan rapi

dan aku berlari menggenggam asa untuk ke sana, kembali.

 

 

(Juni, 2018)

Untuk Tés

Bukan, lagi-lagi bukan. Bukan aku tak mau lagi denganmu. Tetapi aku harus menempuh petualangan baru. Petualangan di mana aku akan merangkai memori lainnya. Di mana aku akan menjadi lebih kuat dan lebih bermanfaat. Bukankah Hercules yang masyhur itu mempunyai banyak petualangan? Mempunyai banyak tempat yang ia jelajahi? Mempunyai banyak orang yang ia tolong dan ia perjuangkan kepentingannya? Dan semoga kau merestui petualanganku selanjutnya. Semoga!

Bagaimanapun juga, kau telah berhasil menggoreskan pengetahuan, cerita, canda, dan tawa di dalam memoriku. Tak akan pernah kulupakan perjalanan kita. Semoga kelak ketika aku mengunjungimu lagi, kau telah menjadi lebih dewasa. Membantuku dalam petualangan-petualangan besarku di masa depan.

Ia adalah Nora. Meski aku sekarang sedang dalam proses mendekatinya, bukan berarti aku melupakanmu, Tés! Kau telah kusimpan dengan abadi dalam salah satu kompartemen di sudut otakku. Oh ya, kompartemen. Kau selalu membisikkan kata itu di saat kita saling merayu dan beromansa. Betapa menakjubkannya, kompartemen-kompartemen yang kau bisikkan itu telah mengizinkanku untuk membangun percaya diri untuk membanggakanmu, di depan semua orang. Kau membisikkan “kompartemen yang berbeda akan memiliki karakteristik yang berbeda pula”. Kedengarannya memang biasa saja. Namun dalam konteks yang spesifik “pertahanan hayati”, hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Bahkan fenomena itu sedikit-banyak sesuai dengan teori si tua Jerne yang mencoba mengajukan sebuah teori jaringan hingga ia memperoleh penghargaan Nobel, empat dekade silam. Meskipun banyak pakar yang tak berhasil membuktikan ocehan si tua Jerne, tapi postulatnya sangat masuk akal dan nyata, menurutku.

Sekali lagi, aku tidak akan pernah melupakanmu, Tés! Dalam momen-momen yang akan datang, aku pasti mengunjungimu lagi. Membawakanmu kue dan martabak yang tidak pernah kau tolak. Kemudian kita akan menghabiskan sore hari bersama sambil menikmati kopi arabika dari Aceh Gayo yang terkenal itu, memandang langit senja oranye yang meneduhkan mata. Memang shade-nya lebih tua daripada warna negara di mana aku menemukanmu, tapi tentu saja warna langit senja beserta gradasinya yang cantik sejuta kali lebih indah dari pada warna negara ini. Bahkan Seno Gumira Ajidarma yang persisten itu memotong langit senja dan mempersembahkannya ke pacarnya. Betapa romantis!

Aku mohon maaf jika selama ini aku tidak bisa memperlakukanmu dengan sempurna. Aku bukannya hanya bisa beralasan, tapi memang kau ini sulit dimengerti. Aku kejar kau ke sini, kau malah lari ke sana. Seakan kau ingin aku terus berlari seperti pepsiman yang sering mengunjungiku dan bermain bersama sewaktu aku masih hidup di buaian ibu dan bapakku, sewaktu aku belum memahami betapa besarnya perbedaan-perbedaan yang ada di dunia ini.

Kau memang sulit dimengerti. Kau memiliki banyak karakter, sehingga aku tidak bisa mengenalmu dengan sederhana. Kau sangat detail dan spesifik. Semua petuahmu selalu bergantung kepada konteks dan keadaan lingkungan. Sehingga ketika tiba waktunya bagiku untuk menceritakanmu kepada kolega-kolegaku, aku sangat berhati-hati agar aku tidak keluar dari konteks yang kau syaratkan. Aku tidak berani masygul untuk membanggakanmu secara sederhana kepada mereka. Semuanya kontekstual.

Aku akan tetap menggenggam tanganmu sebagai penyedia rasa aman bagiku. Sebagai makhluk yang aku ceritakan dengan kebanggaan kepada semua orang yang bertanya padaku mengenaimu. Petuah-petuahmu akan aku bagikan dalam setiap kesempatan yang sesuai. Karakteristikmu yang unik akan selalu aku kampanyekan layaknya para calon pejabat mengampanyekan janji-janji manisnya. Perbedaannya, aku tidak berkampanye untuk berjanji, melainkan berdasarkan data dan fakta yang kau bisikkan padaku setiap waktu.

Sekarang, izinkanlah aku untuk melaju. Menjelajah luasnya dunia di sisi yang lain. Mempelajari karakteristik makhluk lainnya melalui Nora. Aku memang belum terlalu kenal dengannya, tapi aku familier dengan wajahnya. Aku pernah bertemu dengannya, sekitar setahun yang lalu, di sebuah pertemuan berkala. Aku sempat berkenalan dengannya, namun aku tidak memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh. “Waktu memang jahanam.” serapah Silampukau. Waktu yang tidak memberikanku kesempatan untuk berkenalan dengannya lebih jauh karena ia pergi begitu saja setelah pertemuan tersebut usai, dan aku pun memiliki urusan lain di waktu itu. Lalu semuanya bergulir begitu saja. Aku melupakannya, dan dia melupakanku.

Namun beberapa minggu lalu, tak terkira sama sekali, aku bertemu dengannya kembali. “Hai!” sapanya. Kemudian, seperti teori Raditya Dika yang masyhur di kalangan millenial, bahwa hai setitik rusak move-on sebelanga. Di momen itu, aku kemudian berinisiatif untuk mengajaknya meminum kopi di depan sekolah, sambil melihat pemandangan kanal di sore hari di penghujung musim dingin yang sakral tersebut. Kami kemudian saling bertukar nomor telepon dan mulai saling menghubungi melalui Whatsapp. Ah, aku bukannya tidak peduli denganmu, Tés! Tapi aku manusia biasa yang berhasrat untuk menjelajah hal baru. Selain itu, lingkunganku di sini memang mewajibkanku untuk menjelajah. Aku bisa apa?

Kini, Tés, aku memberitahumu. Aku sedang dan sungguh berniat mendekatinya. Aku ingin memahaminya sebagaimana aku memahamimu. Doakan aku, Tés, kumohon. Ini demi masa depanku. Aku harus adaptif dan bisa memperlakukan segalanya dengan adil. Seperti yang telah aku katakan, aku akan kembali padamu suatu waktu nanti, jika saatnya sudah tepat. Tetaplah di sana, jagoan! Tetaplah sabar menungguku di satu kompartemen di sudut otakku. Aku akan kembali padamu, aku berjanji! Janjiku ini adalah janji sebagai seorang pria sejati!

Ayolah, Tés!

Aku kembali ke sini. Ke tempat yang selalu menjadi pelarian, memikirkanmu. Ini tentangku, juga tentangmu. Jangan menghindar. Mari selesaikan bersama. Tak usah takut, aku tidak menggigit. Kecuali jika kau sepotong kue, tentu aku akan menyantapmu, tanpa ragu.

Di tempat ini, aku bisa memikirkan apa pun semauku. Tentang waktu yang tak pernah bisa berdamai denganku, ataupun tentang meja, yang selalu setia dan kuat untuk membantu menopang segala beban di pundakku. Ya, meja yang aku gunakan juga sekarang, untuk menyangga komputer ini demi menuangkan segala curahan perasaanku. Juga tentangmu, yang selalu setia diam di sana, di pojok pikiranku. Kau tak mau hilang di antara segala hal yang sudah berdempetan memenuhi otakku. Memang kau, sangat persisten!

Hanya satu hal yang tak boleh aku lakukan di sini: berbicara.

Dan di sini, bukan hanya aku sendiri. Banyak manusia serupa denganku yang mengejar waktu, demi segala hal yang telah direncanakan. Ah, duniawi! Tapi kalau semuanya kau pikirkan dengan pola seperti itu, ya tak usah hidup. Ah, sudahlah.

Kembali ke perihal di paragraf awal, ini adalah tentangku, juga tentangmu. Bukan tentang tempat di mana aku berada sekarang. Ia hanya latar, tak terlalu penting. Tak usah dipikirkan..

Ya, oke. Tentangku dan tentangmu. Kita tak bisa dipisahkan. Kau adalah salah satu bagian dari aku yang utuh. Kau adalah sebuah pengejawantahan sebagian pikiran dan tenaga yang kucurahkan sejak pertama kali kita bertemu, beberapa bulan lalu. Tidak, kok, aku tidak lelah memikirkanmu dan bermesraan denganmu. Aku hanya berfluktuasi. Kadang antusias, kadang datar. Kadang jengah, kadang kucari kau. Sama seperti makan, kadang aku sangat ingin selalu makan nasi, namun terkadang aku hanya ingin lauknya saja. Manusiawi, bukan?

Pernah, suatu hari, aku tidak memikirkanmu sama sekali. Namun, dunia sama saja. Tidak menjadi lebih indah, malah sebaliknya. Aku seperti orang yang masuk ke dalam dunia permainan virtual reality. Seakan aku berlarian di dalam sana, namun nyatanya aku tidak ke mana-mana. Semu.

Akhir-akhir ini, aku semakin gemas denganmu. Kau menjelma menjadi makhluk yang semakin lucu, ingin aku mencubit pipimu, hingga merah. Sepertinya, kau akan menjadi semakin menggemaskan dengan rona merah di pipimu. Layaknya selebriti di iklan kosmetik, mengundang semua untuk tertarik denganmu. Aku juga ingin sekali-kali menggodamu. Menggoda untuk meninggalkanmu, sekadar untuk membuatmu cemburu. Apakah mungkin kau cemburu terhadapku?

Seiring dengan meningkatnya kegemasanku padamu, aku juga merasa hubungan kita semakin kompleks. Kau akhir-akhir ini menjelma ibu kos galak yang selalu menagih uang bulanan. Aku selalu meminta keringanan untuk itu, dan terkadang berusaha menghindarimu. Aku tergopoh-gopoh oleh kejaranmu.

Kau juga menjelma menjadi teman baik, namun memerlukan pertolongan yang intensif. Kau selalu tanya aku dengan berbagai hal. Tentang ayam, tentang angka, tentang perlindungan, dan tentang makhluk jahat. Pertanyaan-pertanyaanmu selalu sulit. Terkadang, aku babak belur di serbu pertanyaan-pertanyaanmu. Sehingga terkadang aku malas untuk mengobrol denganmu, apalagi bermesraan. Kemudian, yang aku bisa lakukan hanya menyederhanakan pertanyaan-pertanyaanmu, dan berusaha mencari tahu jawabannya. Sedikit demi sedikit.

Sifatmu yang kedua adalah sesuatu yang aku senangi tentangmu, tentu saja. Meskipun kau memerlukan pertolongan yang intensif, tapi aku senang melakukannya. Mungkin aku selalu dipenuhi rasa bingung dan tak memiliki kepercayaan diri. Namun, ayolah, mari kita perbaiki hubungan kita. Sering-seringlah kau menjelma dengan sifatmu yang kedua. Aku lebih suka kau yang seperti itu!

Bukan, bukan aku tak mau menerimamu apa adanya. Tetapi, kalau kita ingin menjaga hubungan ini, toh menyenangkan orang lain itu merupakan langkah yang sangat baik, bukan? Tentu saja!

Mari, kita jaga hubungan ini, hingga kelak kita dipisahkan oleh waktu (yang ku harap tak lama lagi). Jadilah sahabatku, yang memperbesar harapanku akan kualitas hidupku di masa depan. Aku percaya, setiap usaha dalam kebaikan akan dibalas pula oleh sesuatu yang baik. Mari kita tetap jaga hubungan ini, tetap dalam keadaan baik-baik, tidak kekurangan sesuatu apa pun, dan memiliki akhir kisah yang indah. Kita hampir menuju titik itu. Semoga!

Akhirnya yang hanya ingin aku katakan adalah, tetaplah menjadi teman baikku. Mari kira genggam erat tangan kita, menuju ke sana, bersama. Sedikit lagi kita mencapainya!

Improving Meat Quality by Castration

Castration is a process of removal of the testicles or its function to sterilise or to decreases particular hormones so that the animal is having different characteristics of the physiological process, resulting in different characteristics of animal products (especially meat).

The most used method of castration is the surgical castration. This method, in principle, is making an incision in the scrotum and the removal of testes. After removal, the testes are absent in the piglet’s body so that it will be not producing any testosterone anymore. By this process, it is expected that the meat of the castrated group of animal has more intramuscular fat because the absence of testosterone which resembles the female meat production and metabolism (Lawrie, 2006).

 

Picture1

The anatomy of the genital tract of male piglets and localisation of incisions during surgical castration (*sites of cutting and/or tearing). Adapted from Prunier et al., 2006.

 

Besides surgical, there is another method of castration, namely immuno- castration. According to Animal Welfare Division of American Veterinary Medical Association (AVMA) (2013), immuno- castration involves an injection of a protein compound that similar to immunisation to triggers antibody production against gonadotropin releasing hormones (GnRH). This process is performed in two doses: the first 8 to 11 weeks before slaughter and the second 4 weeks before slaughter. This process resulting in the same outcome (decreases in gonadal steroids productions) with the surgical castration, so that there is also a decreasing trend in a boar taint and enhancement in meat quality.

Surgical castration will result in pain because the scrotum and testes innervated as well as other tissues (Prunier et al., 2006). Therefore the anesthesia should be used, especially for the piglets older than a week. Local anaesthesia is the most common method used in experiments designed to relieve pain in piglets at castration. Intratesticular administrations have been tested as well as subcutaneous administration at the site of the incision.

The castration is regulated under Commission Directive 2008/120/EC of Official Journal of European Communities (2009). In annexe chapter 1 of regulation as mentioned earlier, it is stated that castration of piglets aged one to seven days can be performed without anaesthesia. The piglets older than seven days have to be castrated, but with the use of anaesthesia and in the supervision of veterinary only.

Concerns about animal welfare arise because nowadays most of the people always wanted to express their sympathy to the animals. Von Borrell et al. (2009) studied that there is pain exist when piglets castrated. This fact is evidently supported by various indicators such as animal’s vocalisation in response to pain, cortisol profile, and behavioural aspects.

References:

American Veterinary Medical Associoation. (2013). Literature Review on the Welfare Implications of Swine Castration. Accessed from: https://www.avma.org/KB/Resources/LiteratureReviews/Documents/swine_castration_bgnd.pdf at 10-4-2017

Lawrie, R. A., & Ledward, D. (2006). Lawrie’s meat science (7th Edition). Cambridge: Woodhead Publishing.

Prunier, A., Bonneau, M., Cinotti, S., Gunn, M., Fredriksen, B., Giersing, M., & Velarde, A. (2006). A review of the welfare consequences of surgical castration in piglets and the evaluation of non-surgical methods, Animal Welfare 2006, 15: 277-289.

The Council of European Union. (2009). Council Directive 2008/120/EC of 18 December 2008. Laying down minimum standards for the protection of pigs. Accessed from: http://eur-lex.europa.eu/legal-content/EN/TXT/PDF/?uri=CELEX:32008L0120&from=EN at 10-4-2017.

von Borrell, E., & Baumgartner, J. (2014). Animal welfare implications of surgical castration and its alternatives in pigs. Animal (2009), 3:11, pp 1488–1496. doi:10.1017/S1751731109004728.

 

Berkompromi

Sebagai manusia, yang bersubjek sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri. Secara alami, manusia satu bergantung kepada manusia lain. Selalu seperti itu selama kita diberi nafas.

Dinamika berawal dari titik ini. Dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia, di sana manusia satu dituntun dapat berkompromi dengan manusia lain.

Adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Esa, manusia diberi akal dan hati. Memiliki keinginan, pikiran, dan niat yang bervariasi. Tiap manusia secara khas memiliki isi hati dan pikirannya. Yang tahu adalah dirinya sendiri.

Dalam berhubungan dengan manusia lain, ketergantungan dan kebutuhan antar manusia menciptakan fase kompleks, integrasi antara isi hati manusia satu dengan yang lain. Pada titik ini, kedua pihak mesti bisa saling berkompromi, agar tercipta hubungan yang selaras.

Tetapi, perbedaan budaya antar manusia membuat tingkat kompromi berbeda pula. Bagi manusia satu, mungkin ia dapat memperjuangkan kompromi hingga rela berkorban untuk mencapai persetujuan. Namun, tidak halnya dengan manusia kedua. Ia lebih memilih mempertahankan isi hatinya, acuh tak acuh terhadap isi hati manusia pertama. Dia bahkan tidak berniat atau mengatakan “persetan” dengan kata “setuju” jika isi hatinya tidak dapat terealisasi.

Pada akhirnya, terjadi konflik antarmanusia. Dari sekadar saling acuh tak acuh, hingga saling deklarasi perang. Emosi yang membuncah menjadikan manusia dapat melakukan segala hal untuk mengekspresikannya.

Lalu di mana solusinya?

Solusinya adalah kontemplasi. Bercermin kepada diri sendiri, bersimpati pada manusia lain. Mungkin jika fase kontemplasi ini telah dilakukan pun, kata mufakat tidak tercapai. Namun setidaknya, ada rasa ikhlas yang mendasarinya. Setidaknya hubungan kedua antarmanusia tersebut tetap baik dan saling memahami satu sama lain.

Perihal kebersamaan kedua manusia tersebut, itu urusan akhir. Mungkin saja manusia satu pada akhirnya berpisah dengan manusia lain. Memilih jalan masing-masing. Kemudian tidak bersua kembali di waktu yang akan datang. Itu merupakan hasil dari kompromi.

Tetaplah berjuang..

Osteochondrosis in Swine

Is it Farmer’s Major Problem on Swine Production?

Locomotion is an important factor in whole pig production. With locomotion, pigs will be able to gather feed and move freely as they want. Failures in locomotion will not only decreases pig productivity, increases the stress level, but also against the animal welfare ethics. Osteochondrosis, more or less associated with the movement issue in swine production, at least it can make animals feel pain and decreases animal welfare. In this paper, I will focus on the mechanism of how osteochondrosis happens and its severity, relevance to locomotion problem, its impact on the livestock production, and in the end, try to construct an answer to the central question in the subtitle of this paper.

To begin with, I will briefly discuss how osteochondrosis happens. Osteochondrosis is one of the developmental orthopaedic disease that is encountered worldwide (Ekman et al., 2009). Osteochondrosis occurs when there is a focal disturbance in endochondral ossification that may result in the malfunction of the blood supply to epiphyseal growth (Olstad et al., 2015). This failure started when there is a leakage of blood vessels between metaphysis and epiphysis sections inside the extension sections of articular-epiphyseal cartilage complex (AECC). This leakage may be caused by the disruption of anastomoses connection which is a weak binding between growing blood vessels across regions to undergo the longitudinal growth of metaphyseal growth cartilage and the spherical growth of epiphyseal growth cartilage (Ytrehus et al., 2004). This leakage may cause necrosis cells in the resting zone that disrupting matrix calcification or vascular invasion, and the matrix does not become converted to bone (Ytrehus et al., 2007). It is still unclear of what factor that causes this leakage, as this disease’s cause are multifactorial including both genetic and environmental factors (de Koning et al., 2014). However, it is likely caused mainly by the overpressure of the animal’s upper body, caused by weight, activity, and heredity (Ytrehus et al., 2007; Wittwer et al., 2009).

Overpressure in the cartilage may be caused by the high growth of the animal itself. Van Grevenhof et al. (2012) studied that at the latter stages of pig’s life (from weaning onwards), pigs diagnosed with minor or severe osteochondrosis were having a higher body weight than that without osteochondrosis. This fact then makes sense with the simple logical paradigm that joints that receive heavier weight from the upper body will be more prone to injuries that disrupt anastomoses connection between blood vessels in the epiphyseal and metaphyseal regions. Body weight will be connected with nutrition as well. A study by De Koning (2013) resulted that gilts that fed ad libitum diet in their later life (10 weeks onwards), preceded by restricted diet in their earlier life have higher prevalence of osteochondrosis than they that fed all time ad libitum diet, all time-restricted diet, and ad libitum switched to restricted diet. This is also logical since there is a possibility that gilts that fed ad libitum diet in their earlier life have already optimised their bone and muscular capacity to support the expected high body weight in their late life. However, if this feed restriction implemented into swine production industry, in my opinion, there will be no optimum efficiency, since it will not yield maximum average daily gain or total body weight at slaughter age.

The severity of osteochondrosis can be divided into three categories: latens, manifesta, and dissecans (Ytrehus et al., 2007). In osteochondrosis latens, the necrosis cells are located in the resting zone of

the growth cartilage, which not overlying the articular cartilage or subchondral bone. Whereas, osteochondrosis manifesta resulting the necrosis up into the subchondral bone. The most severe one, osteochondrosis dissecans, may lead to a rupture of articular cartilage because there is an overlying necrotic cartilage cell inside region of articular cartilage (Ytrehus et al., 2007). In my opinion, all these three conditions can make piglets in pain, since there are abundant nervous tissues in metaphyseal and lower epiphyseal regions.

Osteochondrosis is one of the abnormalities that may lead to locomotion problem. Nonetheless, it is still unclear about the exact number on how much the contribution of osteochondrosis in movement problems. In my opinion, since there is an existence of pain, animals will suffer from osteochondrosis. This shocks will make the animal prevent to move actively (Van Grevenhof et al., 2012). In the end, it may drive to different production problem such as low feed intake as a result of locomotion problem.

Osteochondrosis increases the risk of premature culling (De Koning et al., 2012). A study by Kirk et al. (2005) resulted that 72% of mortality of pigs were associated with the locomotive problem, which arthritis caused 24% of locomotion disorders. Ytrehus et al. (2007) affirmed that severe osteochondrosis (dissecans) might lead to osteoarthritis if there is an overweight of animal’s body. This high number of mortality is associated with the premature culling. Most of the pigs that have locomotive disorders are intentionally killed, as an action of culling. Another statement from Kirk et al. (2005) is that 49% of 35 sows that he randomly selected are suffering from osteochondrosis. This finding convinces us that the prevalence of osteochondrosis is considerably high, although this is only found in one herd. These premature culling may have an impact on economics aspect of the livestock production, despite there is no clear and consistent connection yet.

Studies also focused on the clinical aspect such as gait scoring to detect whether a pig suffers osteochondrosis or not. Stavrakakis et al. (2014) reported that pigs with clinical deficiencies and degenerative joint lesions had altered kinematics. Gait or movement patterns were significantly associated with the occurrence and severity of osteochondrosis (De Koning et al., 2012). However, Etterlin et al. (2015) stated that the association between gait score and joint condemnation caused by osteochondrosis appeared to be poor.

After studied several works of literature, I came up with this conclusion. Osteochondrosis can lead to locomotion problem in pigs. The prevalence is relatively high in one herd, also can lead to another physiological stress that causes lower productivity, premature culling, welfare issue, and economics losses. However, that impact is still unclear until I write this paper and several pieces of literature not that convinced to link causal interrelation between osteochondrosis and production problems. Because of that condition, I will say that osteochondrosis is a major problem only when there is a case that pigs are lame because of osteochondrosis so that pigs cannot moves freely as they want and cannot grow as it have to. I believe there are studies still in progress on how to detect osteochondrosis clinically without sacrifices pigs to be slaughtered. Until that time, I will conclude that osteochondrosis is a middle priority problem because its occurrence is varied in each herd and cannot be generalised yet. Hence, the impact is also varied regarding production and needed different approach and handling in different herd condition.

References:

de Koning, D. B., Van Grevenhof, E. M., Laurenssen, B. F. A., Ducro, B. J., Heuven, H. C. M., De Groot, P. N., Kemp, B. (2012). Associations between osteochondrosis and conformation and locomotive characteristics in pigs. Journal of Animal Science, 90(13), 4752–4763. https://doi.org/10.2527/jas.2012-5310

de Koning, D. B., Van Grevenhof, E. M., Laurenssen, B. F. A., & Weeren, P. R. Van. (2013). The influence of dietary restriction before and after 10 weeks of age on osteochondrosis in growing gilts Hazeleger and B. Kemp. Journal of Animal Science, 2013.91:5167–5176. https://doi.org/10.2527/jas2013-6591

de Koning, D. B., Van Grevenhof, E. M., Laurenssen, B. F. A., van Weeren, P. R., Hazeleger, W., & Kemp, B. (2014). The influence of floor type before and after 10 weeks of age on osteochondrosis in growing gilts. Journal of Animal Science, 92(8), 3338–3347. https://doi.org/10.2527/jas2014- 7902

Ekman, S., Carlson, C. S., & van Weeren, P. R. (2009). Workshop report. Third International Workshop on Equine Osteochondrosis, Stockhom, 29-30th May 2008. Equine Veterinary Journal, 41(5), 504–507. https://doi.org/10.2746/042516409X431902

Etterlin, P. E., Morrison, D. A., Österberg, J., Ytrehus, B., Heldmer, E., & Ekman, S. (2015). Osteochondrosis, but not lameness, is more frequent among free-range pigs than confined herd- mates. Acta Veterinaria Scandinavica, 57(1), 63. https://doi.org/10.1186/s13028-015-0154-7

Kirk, R. K., Svensmark, B., Ellegaard, L. P., & Jensen, H. E. (2005). Locomotive disorders associated with sow mortality in Danish pig herds. Journal of Veterinary Medicine Series A: Physiology Pathology Clinical Medicine, 52(8), 423–428. https://doi.org/10.1111/j.1439-0442.2005.00747.x

Olstad, K., Ekman, S., & Carlson, C. S. (2015). An Update on the Pathogenesis of Osteochondrosis. Veterinary Pathology, 52(5), 785–802. https://doi.org/10.1177/0300985815588778

Stavrakakis, S., Guy, J. H., Warlow, O. M. E., Johnson, G. R., & Edwards, S. A. (2014). Walking kinematics of growing pigs associated with differences in musculoskeletal conformation, subjective gait score and osteochondrosis. Livestock Science, 165(1), 104–113. https://doi.org/10.1016/j.livsci.2014.04.008

Van Grevenhof, E. M., Heuven, H. C. M., van Weeren, P. R., & Bijma, P. (2012). The relationship between growth and osteochondrosis in specific joints in pigs. Livestock Science, 143(1), 85–90. https://doi.org/10.1016/j.livsci.2011.09.002

Wittwer, C., Hamann, H., & Distl, O. (2009). The candidate gene XIRP2 at a quantitative gene locus on equine chromosome 18 associated with osteochondrosis in fetlock and hock joints of south german coldblood horses. Journal of Heredity, 100(4), 481–486. https://doi.org/10.1093/jhered/esp006

Ytrehus, B., Ekman, S., Carlson, C. S., Teige, J., & Reinholt, F. P. (2004). Focal changes in blood supply during normal epiphyseal growth are central in the pathogenesis of osteochondrosis in pigs. Bone, 35(6), 1294–1306. https://doi.org/10.1016/j.bone.2004.08.016

Ytrehus, B., Carlson, C. S., & Ekman, S. (2007). Etiology and pathogenesis of osteochondrosis. Veterinary Pathology, 44(4), 429–448. https://doi.org/10.1354/vp.44-4-429