Sebuah Keresahan

Photo by Hans-Peter Gauster on Unsplash

Photo by Hans-Peter Gauster on Unsplash

Keresahan terbesarku saat ini adalah kebingungan dalam mencari peran saat aku kembali ke Indonesia. Di manakah aku akan berperan? Adakah di sana tempat yang mau menaungi karya-karyaku? Atau, lebih tepatnya, adakah tempat bagiku untuk bekerja nanti? Karena, bagaimanapun juga, aku harus bisa mencapai kesejahteraanku terlebih dahulu, sebelum bisa menyejahterakan orang lain.

Orang tuaku bilang, sekolah saja dahulu, setinggi-tingginya, semampu-mampunya. Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalaku sejak aku berada di bangku sekolah dasar, hingga sekarang, saat aku menyelesaikan program master di bidang ilmu hewan. Kalimat wejangan orang tuaku itu terasa nyata setelah aku membaca roman yang masyhur karya Pak Pram, Bumi Manusia. Di akhir cerita, Nyai Ontosoroh berkata kepada Minke, bahwa mereka telah berjuang sekuat-kuatnya, semampu-mampunya, namun tetap saja nasib baik tidak berpihak kepada mereka. Sebagai seorang manusia biasa, aku tidak mau hal demikian terjadi dalam hidupku.

Aku melakukan penelitian untuk tesisku di bidang imunologi, sehingga imunologi menjadi spesialisasiku. Pertimbanganku adalah, mungkin tidak banyak orang yang memiliki spesialisasi serupa. Karena sejauh pengetahuanku, dunia peternakan di Indonesia masih belum memiliki dasar yang kuat dalam hal kesehatan hewan. Praktik operasional di industri peternakan hewan belum sedalam itu. Baik peternak rakyat dan industri produksi ternak di Indonesia secara umum masih berkutat di sistem produksinya. Mereka masih disibukkan mencari bentuk kelayakan bisnis yang menguntungkan dalam jangka panjang, menaikkan produktivitas dengan pragmatisme kapitalis, di mana inovasi teknologi fisik masih menjadi hegemoni. Pelaku bisnis peternakan di Indonesia belum berani berinvestasi tinggi dalam inovasi biokimia, dalam hal ini imunologi dan biosekuriti.

Mungkin inilah kesempatan bagiku, pikirku.

Namun, sepertinya aku juga alpa bahwa dengan terlalu sedikitnya orang yang mendalami spesialisasi ini, maka aku yang harus memulai. Aku tidak bisa terjun begitu saja ke dalam hingar bingar bidang ini. Karena belum ada hingar bingar di bidang ini. Aku harus ikut membentuk standar-standar yang pada akhirnya akan menjadi sebuah sistem di lapangan. Kemudian di titik ini, pertanyaan lain muncul. Dari manakah aku harus memulai?

Kemudian, berita-berita mengenai orang-orang Indonesia yang berkarya di luar negeri mulai menghantuiku. Mereka berkarya di luar negeri karena tidak adanya wadah bagi keahlian mereka di Indonesia. Adakah aku harus mengikuti jejaknya?

Ataukah aku harus merumuskan beberapa alternatif pilihan yang tersedia.

Industri obat-obatan hewan?

Peneliti?

Pengajar?

Wirausahawan?

Atau menyerah, untuk saat ini? Let it flow. Dinginkan kepala, tenangkan pikiran.

Advertisements

Seuntai Kata untuk Nora

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Photo by Annie Spratt on Unsplash

Nora yang baik, tahukah kau, apa itu pencapaian? Kata itu telah bersemayam di sudut otakku sejak sekitar empat bulan yang lalu. Mulai sejak saat itu, aku mencari dan terus mencari maknanya. Namun sampai saat ini, aku belum menemukannya. Mungkin pertanyaan itu akan selalu bersemayam di sana selama otakku masih diberi nutrisi untuk bekerja.

Orang bilang, hidup adalah mengenai pencapaian demi pencapaian. Ia menjadi sebuah bahan bakar untuk mengonversi jiwa yang mentah menjadi matang, menjadi mempunyai arah dan peran. Orang juga bilang bahwa hidup adalah pilihan. Termasuk memilih apakah suatu peristiwa dalam hidup itu sendiri kita maknai sebagai pencapaian atau bukan. Hingga saat ini, aku enggan untuk memperlakukanmu sebagai sebuah pencapaian. Karena hanya dengan begitulah aku tidak akan merasa puas. Hanya dengan tidak merasa puaslah, hidupku bisa terus bergulir.

Nora yang baik, kau sangat sulit untuk dipahami. Membandingkanmu dengan Tes, membawaku menuju dua dunia yang berbeda. Bagai langit dan bumi, yang tak pernah sealam. Bagai hitam dan putih, yang tak pernah sewarna. Sebenarnya, mungkin saja ada jembatan antara langit dan bumi itu, namun aku perlu waktu yang banyak untuk menemukannya. Dalam kasusku, sayangnya, aku tidak memiliki banyak waktu.

Perjuanganku di sini, sejatinya, mirip dengan perjuangan bangsa kami berabad-abad silam. Hanya saja, tak perlu memakai popor bedil sebagai indikator perlawanan, melainkan melalui pemikiran-pemikiran bebas dan independen sebagai senjatanya dan argumentasi-argumentasi ilmiah sebagai pelornya. Artikel-artikel ilmiah berperan sebagai bivak pelindung di keantah-berantahan yang sebenarnya cukup sakti untuk melindungi dan memelihara senjata beserta pelor-pelornya, atau sekadar untuk mengembalikan stamina semasa gencatan senjata.  Pelor demi pelor kukumpulkan untuk memperkuat arsenal-ku, lalu pada waktunya, kulontarkan pula satu per satu kepada koloni bajingan itu. Sampai akhirnya ia mengibarkan bendera putih, menyudahi perang yang telah kulawan mati-matian itu. “Goed gedaan. Je bent klaar om te gaan,” tukasnya sembari tersenyum dan menyodorkan tangannya untuk menjabat tanganku.

Pada titik itu, aku tidak tahu harus merespons seperti apa. Secara insting aku hanya merespons dengan menyambut jabatan tangannya dan dengan senyum simpul, mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu dan pulang. Dunia serasa terhenti sekejap, menyadari bahwa aku adalah seseorang yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Aku terenyak memikirkan tanggung jawab yang lebih besar yang telah menungguku di hari-hari di masa depan.

Nora yang baik, kau telah mengantarkanku menuju tanggung jawab yang lebih besar di masa depan. Aku pun tak tahu apakah aku bisa mengembannya demi kemajuan pribadi, keluarga, atau nusa dan bangsa. Tapi, yang aku sadari betul adalah bahwa dengan tanggung jawab ini aku tidak bisa berhenti. Aku sudah terbayang mengenai betapa perihnya hidupku yang akan datang dengan tanggung jawab yang kau antarkan tepat menuju batang otakku ini.

Terima kasih, Nora, atas segalanya. Dengan caramu yang khas, kau telah memberikanku ilmu yang tak terlupakan sepanjang masa. Kini di sudut otakku dengan sendirinya telah terbangun kompartemen yang isinya hanya dirimu. Tidak luas, namun sarat makna. Di masa depan, aku pasti akan mengunjungimu kembali.

Wageningen, 3 September 2018

Saat Jumpa dengan Kata-Kata

Saat inilah, saat yang kunantikan. Bukan karena telah mencapai sesuatu, ataupun menyelesaikan sesuatu. Banyak hal yang belum selesai, banyak sekali. Nanti saja, mereka bisa menunggu. Tetapi, di saat seperti inilah aku selalu merasa senang. Selalu ada ruang untukmu di hati dan otakku, wahai kata-kata. Meski kita tak selalu bersua setiap saat, tapi kau selalu mengunjungiku di saat yang tepat.

Aku memang tak jago dalam membuat selebrasi untuk menyambutmu. Aku tak mampu sampai membuat pesta dengan meletuskan untaian mercon berupa picisan untuk merayakan kedatanganmu. Sudahlah, apa adanya saja. Biarkan semua mengalir dengan tanpa ada hambatan, tanpa banyak aturan.

Kata Arswendo, mengarang itu mudah. Masa bodoh! Tentu saja itu berlaku baginya. Atau bagi orang-orang yang sudah terlatih. Tapi bagiku, tidak sama sekali. Aku selalu sejalan dengan buah pikiran Pram, bahwa “menulis adalah sebuah keberanian”. Keberanian untuk jujur dalam mengonversi rasa menjadi cipta, merekam titik dalam hidup menjadi untaian huruf. Menimbulkan keberanian adalah hal yang sulit, tidak semudah mengucapkannya, butuh proses.

Kemudian di saat inilah rasa kagumku kepada penulis-penulis besar di masa yang lalu membuncah. Mereka yang berani menuangkan ide liarnya, pikiran-pikiran yang meracau ke sana kemari, namun mampu mereka gubah menjadi ciptaan-ciptaan yang masyhur, mampu menginspirasi jutaan manusia lain. Sungguh betapa besar afeksi yang mereka sematkan dalam setiap hurufnya, betapa dekat hati mereka dengan penikmatnya, bahkan lebih dekat dibandingkan jarak spasi antar kata-katanya.

Entahlah, kau boleh bilang ini pelarian. Aku merasa ini sebuah kebutuhan. Hasrat muncul tiba-tiba, tanpa ada aba-aba. Aku tidak berpikir untuk mengundangmu malam ini, kata-kata. Sejujurnya aku ingin sendiri malam ini. Namun ternyata aku tak bisa benar-benar sendiri. Kesendirian memang penuh misteri. Ia menyimpan sepi, namun di sisi lain ia mengundang hal lain yang tak bisa menunggu hingga besok pagi.

Saat inilah, saat yang kunantikan. Momen yang tepat untuk mencatat. Tanpa ada maksud apa pun selain merangkai kalimat. Tanpa ada niat dan usaha menggatra Hindia, melainkan Indonesia.

Terima kasih, Pram!

21 Juni 2018

Summer Solstice; Malam di mana Argentina mengalami mimpi buruk di tangan Kroasia.

Untuk Tés

Bukan, lagi-lagi bukan. Bukan aku tak mau lagi denganmu. Tetapi aku harus menempuh petualangan baru. Petualangan di mana aku akan merangkai memori lainnya. Di mana aku akan menjadi lebih kuat dan lebih bermanfaat. Bukankah Hercules yang masyhur itu mempunyai banyak petualangan? Mempunyai banyak tempat yang ia jelajahi? Mempunyai banyak orang yang ia tolong dan ia perjuangkan kepentingannya? Dan semoga kau merestui petualanganku selanjutnya. Semoga!

Bagaimanapun juga, kau telah berhasil menggoreskan pengetahuan, cerita, canda, dan tawa di dalam memoriku. Tak akan pernah kulupakan perjalanan kita. Semoga kelak ketika aku mengunjungimu lagi, kau telah menjadi lebih dewasa. Membantuku dalam petualangan-petualangan besarku di masa depan.

Ia adalah Nora. Meski aku sekarang sedang dalam proses mendekatinya, bukan berarti aku melupakanmu, Tés! Kau telah kusimpan dengan abadi dalam salah satu kompartemen di sudut otakku. Oh ya, kompartemen. Kau selalu membisikkan kata itu di saat kita saling merayu dan beromansa. Betapa menakjubkannya, kompartemen-kompartemen yang kau bisikkan itu telah mengizinkanku untuk membangun percaya diri untuk membanggakanmu, di depan semua orang. Kau membisikkan “kompartemen yang berbeda akan memiliki karakteristik yang berbeda pula”. Kedengarannya memang biasa saja. Namun dalam konteks yang spesifik “pertahanan hayati”, hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Bahkan fenomena itu sedikit-banyak sesuai dengan teori si tua Jerne yang mencoba mengajukan sebuah teori jaringan hingga ia memperoleh penghargaan Nobel, empat dekade silam. Meskipun banyak pakar yang tak berhasil membuktikan ocehan si tua Jerne, tapi postulatnya sangat masuk akal dan nyata, menurutku.

Sekali lagi, aku tidak akan pernah melupakanmu, Tés! Dalam momen-momen yang akan datang, aku pasti mengunjungimu lagi. Membawakanmu kue dan martabak yang tidak pernah kau tolak. Kemudian kita akan menghabiskan sore hari bersama sambil menikmati kopi arabika dari Aceh Gayo yang terkenal itu, memandang langit senja oranye yang meneduhkan mata. Memang shade-nya lebih tua daripada warna negara di mana aku menemukanmu, tapi tentu saja warna langit senja beserta gradasinya yang cantik sejuta kali lebih indah dari pada warna negara ini. Bahkan Seno Gumira Ajidarma yang persisten itu memotong langit senja dan mempersembahkannya ke pacarnya. Betapa romantis!

Aku mohon maaf jika selama ini aku tidak bisa memperlakukanmu dengan sempurna. Aku bukannya hanya bisa beralasan, tapi memang kau ini sulit dimengerti. Aku kejar kau ke sini, kau malah lari ke sana. Seakan kau ingin aku terus berlari seperti pepsiman yang sering mengunjungiku dan bermain bersama sewaktu aku masih hidup di buaian ibu dan bapakku, sewaktu aku belum memahami betapa besarnya perbedaan-perbedaan yang ada di dunia ini.

Kau memang sulit dimengerti. Kau memiliki banyak karakter, sehingga aku tidak bisa mengenalmu dengan sederhana. Kau sangat detail dan spesifik. Semua petuahmu selalu bergantung kepada konteks dan keadaan lingkungan. Sehingga ketika tiba waktunya bagiku untuk menceritakanmu kepada kolega-kolegaku, aku sangat berhati-hati agar aku tidak keluar dari konteks yang kau syaratkan. Aku tidak berani masygul untuk membanggakanmu secara sederhana kepada mereka. Semuanya kontekstual.

Aku akan tetap menggenggam tanganmu sebagai penyedia rasa aman bagiku. Sebagai makhluk yang aku ceritakan dengan kebanggaan kepada semua orang yang bertanya padaku mengenaimu. Petuah-petuahmu akan aku bagikan dalam setiap kesempatan yang sesuai. Karakteristikmu yang unik akan selalu aku kampanyekan layaknya para calon pejabat mengampanyekan janji-janji manisnya. Perbedaannya, aku tidak berkampanye untuk berjanji, melainkan berdasarkan data dan fakta yang kau bisikkan padaku setiap waktu.

Sekarang, izinkanlah aku untuk melaju. Menjelajah luasnya dunia di sisi yang lain. Mempelajari karakteristik makhluk lainnya melalui Nora. Aku memang belum terlalu kenal dengannya, tapi aku familier dengan wajahnya. Aku pernah bertemu dengannya, sekitar setahun yang lalu, di sebuah pertemuan berkala. Aku sempat berkenalan dengannya, namun aku tidak memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh. “Waktu memang jahanam.” serapah Silampukau. Waktu yang tidak memberikanku kesempatan untuk berkenalan dengannya lebih jauh karena ia pergi begitu saja setelah pertemuan tersebut usai, dan aku pun memiliki urusan lain di waktu itu. Lalu semuanya bergulir begitu saja. Aku melupakannya, dan dia melupakanku.

Namun beberapa minggu lalu, tak terkira sama sekali, aku bertemu dengannya kembali. “Hai!” sapanya. Kemudian, seperti teori Raditya Dika yang masyhur di kalangan millenial, bahwa hai setitik rusak move-on sebelanga. Di momen itu, aku kemudian berinisiatif untuk mengajaknya meminum kopi di depan sekolah, sambil melihat pemandangan kanal di sore hari di penghujung musim dingin yang sakral tersebut. Kami kemudian saling bertukar nomor telepon dan mulai saling menghubungi melalui Whatsapp. Ah, aku bukannya tidak peduli denganmu, Tés! Tapi aku manusia biasa yang berhasrat untuk menjelajah hal baru. Selain itu, lingkunganku di sini memang mewajibkanku untuk menjelajah. Aku bisa apa?

Kini, Tés, aku memberitahumu. Aku sedang dan sungguh berniat mendekatinya. Aku ingin memahaminya sebagaimana aku memahamimu. Doakan aku, Tés, kumohon. Ini demi masa depanku. Aku harus adaptif dan bisa memperlakukan segalanya dengan adil. Seperti yang telah aku katakan, aku akan kembali padamu suatu waktu nanti, jika saatnya sudah tepat. Tetaplah di sana, jagoan! Tetaplah sabar menungguku di satu kompartemen di sudut otakku. Aku akan kembali padamu, aku berjanji! Janjiku ini adalah janji sebagai seorang pria sejati!

Ayolah, Tés!

Aku kembali ke sini. Ke tempat yang selalu menjadi pelarian, memikirkanmu. Ini tentangku, juga tentangmu. Jangan menghindar. Mari selesaikan bersama. Tak usah takut, aku tidak menggigit. Kecuali jika kau sepotong kue, tentu aku akan menyantapmu, tanpa ragu.

Di tempat ini, aku bisa memikirkan apa pun semauku. Tentang waktu yang tak pernah bisa berdamai denganku, ataupun tentang meja, yang selalu setia dan kuat untuk membantu menopang segala beban di pundakku. Ya, meja yang aku gunakan juga sekarang, untuk menyangga komputer ini demi menuangkan segala curahan perasaanku. Juga tentangmu, yang selalu setia diam di sana, di pojok pikiranku. Kau tak mau hilang di antara segala hal yang sudah berdempetan memenuhi otakku. Memang kau, sangat persisten!

Hanya satu hal yang tak boleh aku lakukan di sini: berbicara.

Dan di sini, bukan hanya aku sendiri. Banyak manusia serupa denganku yang mengejar waktu, demi segala hal yang telah direncanakan. Ah, duniawi! Tapi kalau semuanya kau pikirkan dengan pola seperti itu, ya tak usah hidup. Ah, sudahlah.

Kembali ke perihal di paragraf awal, ini adalah tentangku, juga tentangmu. Bukan tentang tempat di mana aku berada sekarang. Ia hanya latar, tak terlalu penting. Tak usah dipikirkan..

Ya, oke. Tentangku dan tentangmu. Kita tak bisa dipisahkan. Kau adalah salah satu bagian dari aku yang utuh. Kau adalah sebuah pengejawantahan sebagian pikiran dan tenaga yang kucurahkan sejak pertama kali kita bertemu, beberapa bulan lalu. Tidak, kok, aku tidak lelah memikirkanmu dan bermesraan denganmu. Aku hanya berfluktuasi. Kadang antusias, kadang datar. Kadang jengah, kadang kucari kau. Sama seperti makan, kadang aku sangat ingin selalu makan nasi, namun terkadang aku hanya ingin lauknya saja. Manusiawi, bukan?

Pernah, suatu hari, aku tidak memikirkanmu sama sekali. Namun, dunia sama saja. Tidak menjadi lebih indah, malah sebaliknya. Aku seperti orang yang masuk ke dalam dunia permainan virtual reality. Seakan aku berlarian di dalam sana, namun nyatanya aku tidak ke mana-mana. Semu.

Akhir-akhir ini, aku semakin gemas denganmu. Kau menjelma menjadi makhluk yang semakin lucu, ingin aku mencubit pipimu, hingga merah. Sepertinya, kau akan menjadi semakin menggemaskan dengan rona merah di pipimu. Layaknya selebriti di iklan kosmetik, mengundang semua untuk tertarik denganmu. Aku juga ingin sekali-kali menggodamu. Menggoda untuk meninggalkanmu, sekadar untuk membuatmu cemburu. Apakah mungkin kau cemburu terhadapku?

Seiring dengan meningkatnya kegemasanku padamu, aku juga merasa hubungan kita semakin kompleks. Kau akhir-akhir ini menjelma ibu kos galak yang selalu menagih uang bulanan. Aku selalu meminta keringanan untuk itu, dan terkadang berusaha menghindarimu. Aku tergopoh-gopoh oleh kejaranmu.

Kau juga menjelma menjadi teman baik, namun memerlukan pertolongan yang intensif. Kau selalu tanya aku dengan berbagai hal. Tentang ayam, tentang angka, tentang perlindungan, dan tentang makhluk jahat. Pertanyaan-pertanyaanmu selalu sulit. Terkadang, aku babak belur di serbu pertanyaan-pertanyaanmu. Sehingga terkadang aku malas untuk mengobrol denganmu, apalagi bermesraan. Kemudian, yang aku bisa lakukan hanya menyederhanakan pertanyaan-pertanyaanmu, dan berusaha mencari tahu jawabannya. Sedikit demi sedikit.

Sifatmu yang kedua adalah sesuatu yang aku senangi tentangmu, tentu saja. Meskipun kau memerlukan pertolongan yang intensif, tapi aku senang melakukannya. Mungkin aku selalu dipenuhi rasa bingung dan tak memiliki kepercayaan diri. Namun, ayolah, mari kita perbaiki hubungan kita. Sering-seringlah kau menjelma dengan sifatmu yang kedua. Aku lebih suka kau yang seperti itu!

Bukan, bukan aku tak mau menerimamu apa adanya. Tetapi, kalau kita ingin menjaga hubungan ini, toh menyenangkan orang lain itu merupakan langkah yang sangat baik, bukan? Tentu saja!

Mari, kita jaga hubungan ini, hingga kelak kita dipisahkan oleh waktu (yang ku harap tak lama lagi). Jadilah sahabatku, yang memperbesar harapanku akan kualitas hidupku di masa depan. Aku percaya, setiap usaha dalam kebaikan akan dibalas pula oleh sesuatu yang baik. Mari kita tetap jaga hubungan ini, tetap dalam keadaan baik-baik, tidak kekurangan sesuatu apa pun, dan memiliki akhir kisah yang indah. Kita hampir menuju titik itu. Semoga!

Akhirnya yang hanya ingin aku katakan adalah, tetaplah menjadi teman baikku. Mari kira genggam erat tangan kita, menuju ke sana, bersama. Sedikit lagi kita mencapainya!

Berkompromi

Sebagai manusia, yang bersubjek sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri. Secara alami, manusia satu bergantung kepada manusia lain. Selalu seperti itu selama kita diberi nafas.

Dinamika berawal dari titik ini. Dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia, di sana manusia satu dituntun dapat berkompromi dengan manusia lain.

Adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Esa, manusia diberi akal dan hati. Memiliki keinginan, pikiran, dan niat yang bervariasi. Tiap manusia secara khas memiliki isi hati dan pikirannya. Yang tahu adalah dirinya sendiri.

Dalam berhubungan dengan manusia lain, ketergantungan dan kebutuhan antar manusia menciptakan fase kompleks, integrasi antara isi hati manusia satu dengan yang lain. Pada titik ini, kedua pihak mesti bisa saling berkompromi, agar tercipta hubungan yang selaras.

Tetapi, perbedaan budaya antar manusia membuat tingkat kompromi berbeda pula. Bagi manusia satu, mungkin ia dapat memperjuangkan kompromi hingga rela berkorban untuk mencapai persetujuan. Namun, tidak halnya dengan manusia kedua. Ia lebih memilih mempertahankan isi hatinya, acuh tak acuh terhadap isi hati manusia pertama. Dia bahkan tidak berniat atau mengatakan “persetan” dengan kata “setuju” jika isi hatinya tidak dapat terealisasi.

Pada akhirnya, terjadi konflik antarmanusia. Dari sekadar saling acuh tak acuh, hingga saling deklarasi perang. Emosi yang membuncah menjadikan manusia dapat melakukan segala hal untuk mengekspresikannya.

Lalu di mana solusinya?

Solusinya adalah kontemplasi. Bercermin kepada diri sendiri, bersimpati pada manusia lain. Mungkin jika fase kontemplasi ini telah dilakukan pun, kata mufakat tidak tercapai. Namun setidaknya, ada rasa ikhlas yang mendasarinya. Setidaknya hubungan kedua antarmanusia tersebut tetap baik dan saling memahami satu sama lain.

Perihal kebersamaan kedua manusia tersebut, itu urusan akhir. Mungkin saja manusia satu pada akhirnya berpisah dengan manusia lain. Memilih jalan masing-masing. Kemudian tidak bersua kembali di waktu yang akan datang. Itu merupakan hasil dari kompromi.

Tetaplah berjuang..