Untuk Tés

Bukan, lagi-lagi bukan. Bukan aku tak mau lagi denganmu. Tetapi aku harus menempuh petualangan baru. Petualangan di mana aku akan merangkai memori lainnya. Di mana aku akan menjadi lebih kuat dan lebih bermanfaat. Bukankah Hercules yang masyhur itu mempunyai banyak petualangan? Mempunyai banyak tempat yang ia jelajahi? Mempunyai banyak orang yang ia tolong dan ia perjuangkan kepentingannya? Dan semoga kau merestui petualanganku selanjutnya. Semoga!

Bagaimanapun juga, kau telah berhasil menggoreskan pengetahuan, cerita, canda, dan tawa di dalam memoriku. Tak akan pernah kulupakan perjalanan kita. Semoga kelak ketika aku mengunjungimu lagi, kau telah menjadi lebih dewasa. Membantuku dalam petualangan-petualangan besarku di masa depan.

Ia adalah Nora. Meski aku sekarang sedang dalam proses mendekatinya, bukan berarti aku melupakanmu, Tés! Kau telah kusimpan dengan abadi dalam salah satu kompartemen di sudut otakku. Oh ya, kompartemen. Kau selalu membisikkan kata itu di saat kita saling merayu dan beromansa. Betapa menakjubkannya, kompartemen-kompartemen yang kau bisikkan itu telah mengizinkanku untuk membangun percaya diri untuk membanggakanmu, di depan semua orang. Kau membisikkan “kompartemen yang berbeda akan memiliki karakteristik yang berbeda pula”. Kedengarannya memang biasa saja. Namun dalam konteks yang spesifik “pertahanan hayati”, hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Bahkan fenomena itu sedikit-banyak sesuai dengan teori si tua Jerne yang mencoba mengajukan sebuah teori jaringan hingga ia memperoleh penghargaan Nobel, empat dekade silam. Meskipun banyak pakar yang tak berhasil membuktikan ocehan si tua Jerne, tapi postulatnya sangat masuk akal dan nyata, menurutku.

Sekali lagi, aku tidak akan pernah melupakanmu, Tés! Dalam momen-momen yang akan datang, aku pasti mengunjungimu lagi. Membawakanmu kue dan martabak yang tidak pernah kau tolak. Kemudian kita akan menghabiskan sore hari bersama sambil menikmati kopi arabika dari Aceh Gayo yang terkenal itu, memandang langit senja oranye yang meneduhkan mata. Memang shade-nya lebih tua daripada warna negara di mana aku menemukanmu, tapi tentu saja warna langit senja beserta gradasinya yang cantik sejuta kali lebih indah dari pada warna negara ini. Bahkan Seno Gumira Ajidarma yang persisten itu memotong langit senja dan mempersembahkannya ke pacarnya. Betapa romantis!

Aku mohon maaf jika selama ini aku tidak bisa memperlakukanmu dengan sempurna. Aku bukannya hanya bisa beralasan, tapi memang kau ini sulit dimengerti. Aku kejar kau ke sini, kau malah lari ke sana. Seakan kau ingin aku terus berlari seperti pepsiman yang sering mengunjungiku dan bermain bersama sewaktu aku masih hidup di buaian ibu dan bapakku, sewaktu aku belum memahami betapa besarnya perbedaan-perbedaan yang ada di dunia ini.

Kau memang sulit dimengerti. Kau memiliki banyak karakter, sehingga aku tidak bisa mengenalmu dengan sederhana. Kau sangat detail dan spesifik. Semua petuahmu selalu bergantung kepada konteks dan keadaan lingkungan. Sehingga ketika tiba waktunya bagiku untuk menceritakanmu kepada kolega-kolegaku, aku sangat berhati-hati agar aku tidak keluar dari konteks yang kau syaratkan. Aku tidak berani masygul untuk membanggakanmu secara sederhana kepada mereka. Semuanya kontekstual.

Aku akan tetap menggenggam tanganmu sebagai penyedia rasa aman bagiku. Sebagai makhluk yang aku ceritakan dengan kebanggaan kepada semua orang yang bertanya padaku mengenaimu. Petuah-petuahmu akan aku bagikan dalam setiap kesempatan yang sesuai. Karakteristikmu yang unik akan selalu aku kampanyekan layaknya para calon pejabat mengampanyekan janji-janji manisnya. Perbedaannya, aku tidak berkampanye untuk berjanji, melainkan berdasarkan data dan fakta yang kau bisikkan padaku setiap waktu.

Sekarang, izinkanlah aku untuk melaju. Menjelajah luasnya dunia di sisi yang lain. Mempelajari karakteristik makhluk lainnya melalui Nora. Aku memang belum terlalu kenal dengannya, tapi aku familier dengan wajahnya. Aku pernah bertemu dengannya, sekitar setahun yang lalu, di sebuah pertemuan berkala. Aku sempat berkenalan dengannya, namun aku tidak memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh. “Waktu memang jahanam.” serapah Silampukau. Waktu yang tidak memberikanku kesempatan untuk berkenalan dengannya lebih jauh karena ia pergi begitu saja setelah pertemuan tersebut usai, dan aku pun memiliki urusan lain di waktu itu. Lalu semuanya bergulir begitu saja. Aku melupakannya, dan dia melupakanku.

Namun beberapa minggu lalu, tak terkira sama sekali, aku bertemu dengannya kembali. “Hai!” sapanya. Kemudian, seperti teori Raditya Dika yang masyhur di kalangan millenial, bahwa hai setitik rusak move-on sebelanga. Di momen itu, aku kemudian berinisiatif untuk mengajaknya meminum kopi di depan sekolah, sambil melihat pemandangan kanal di sore hari di penghujung musim dingin yang sakral tersebut. Kami kemudian saling bertukar nomor telepon dan mulai saling menghubungi melalui Whatsapp. Ah, aku bukannya tidak peduli denganmu, Tés! Tapi aku manusia biasa yang berhasrat untuk menjelajah hal baru. Selain itu, lingkunganku di sini memang mewajibkanku untuk menjelajah. Aku bisa apa?

Kini, Tés, aku memberitahumu. Aku sedang dan sungguh berniat mendekatinya. Aku ingin memahaminya sebagaimana aku memahamimu. Doakan aku, Tés, kumohon. Ini demi masa depanku. Aku harus adaptif dan bisa memperlakukan segalanya dengan adil. Seperti yang telah aku katakan, aku akan kembali padamu suatu waktu nanti, jika saatnya sudah tepat. Tetaplah di sana, jagoan! Tetaplah sabar menungguku di satu kompartemen di sudut otakku. Aku akan kembali padamu, aku berjanji! Janjiku ini adalah janji sebagai seorang pria sejati!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s