Ayolah, Tés!

Aku kembali ke sini. Ke tempat yang selalu menjadi pelarian, memikirkanmu. Ini tentangku, juga tentangmu. Jangan menghindar. Mari selesaikan bersama. Tak usah takut, aku tidak menggigit. Kecuali jika kau sepotong kue, tentu aku akan menyantapmu, tanpa ragu.

Di tempat ini, aku bisa memikirkan apa pun semauku. Tentang waktu yang tak pernah bisa berdamai denganku, ataupun tentang meja, yang selalu setia dan kuat untuk membantu menopang segala beban di pundakku. Ya, meja yang aku gunakan juga sekarang, untuk menyangga komputer ini demi menuangkan segala curahan perasaanku. Juga tentangmu, yang selalu setia diam di sana, di pojok pikiranku. Kau tak mau hilang di antara segala hal yang sudah berdempetan memenuhi otakku. Memang kau, sangat persisten!

Hanya satu hal yang tak boleh aku lakukan di sini: berbicara.

Dan di sini, bukan hanya aku sendiri. Banyak manusia serupa denganku yang mengejar waktu, demi segala hal yang telah direncanakan. Ah, duniawi! Tapi kalau semuanya kau pikirkan dengan pola seperti itu, ya tak usah hidup. Ah, sudahlah.

Kembali ke perihal di paragraf awal, ini adalah tentangku, juga tentangmu. Bukan tentang tempat di mana aku berada sekarang. Ia hanya latar, tak terlalu penting. Tak usah dipikirkan..

Ya, oke. Tentangku dan tentangmu. Kita tak bisa dipisahkan. Kau adalah salah satu bagian dari aku yang utuh. Kau adalah sebuah pengejawantahan sebagian pikiran dan tenaga yang kucurahkan sejak pertama kali kita bertemu, beberapa bulan lalu. Tidak, kok, aku tidak lelah memikirkanmu dan bermesraan denganmu. Aku hanya berfluktuasi. Kadang antusias, kadang datar. Kadang jengah, kadang kucari kau. Sama seperti makan, kadang aku sangat ingin selalu makan nasi, namun terkadang aku hanya ingin lauknya saja. Manusiawi, bukan?

Pernah, suatu hari, aku tidak memikirkanmu sama sekali. Namun, dunia sama saja. Tidak menjadi lebih indah, malah sebaliknya. Aku seperti orang yang masuk ke dalam dunia permainan virtual reality. Seakan aku berlarian di dalam sana, namun nyatanya aku tidak ke mana-mana. Semu.

Akhir-akhir ini, aku semakin gemas denganmu. Kau menjelma menjadi makhluk yang semakin lucu, ingin aku mencubit pipimu, hingga merah. Sepertinya, kau akan menjadi semakin menggemaskan dengan rona merah di pipimu. Layaknya selebriti di iklan kosmetik, mengundang semua untuk tertarik denganmu. Aku juga ingin sekali-kali menggodamu. Menggoda untuk meninggalkanmu, sekadar untuk membuatmu cemburu. Apakah mungkin kau cemburu terhadapku?

Seiring dengan meningkatnya kegemasanku padamu, aku juga merasa hubungan kita semakin kompleks. Kau akhir-akhir ini menjelma ibu kos galak yang selalu menagih uang bulanan. Aku selalu meminta keringanan untuk itu, dan terkadang berusaha menghindarimu. Aku tergopoh-gopoh oleh kejaranmu.

Kau juga menjelma menjadi teman baik, namun memerlukan pertolongan yang intensif. Kau selalu tanya aku dengan berbagai hal. Tentang ayam, tentang angka, tentang perlindungan, dan tentang makhluk jahat. Pertanyaan-pertanyaanmu selalu sulit. Terkadang, aku babak belur di serbu pertanyaan-pertanyaanmu. Sehingga terkadang aku malas untuk mengobrol denganmu, apalagi bermesraan. Kemudian, yang aku bisa lakukan hanya menyederhanakan pertanyaan-pertanyaanmu, dan berusaha mencari tahu jawabannya. Sedikit demi sedikit.

Sifatmu yang kedua adalah sesuatu yang aku senangi tentangmu, tentu saja. Meskipun kau memerlukan pertolongan yang intensif, tapi aku senang melakukannya. Mungkin aku selalu dipenuhi rasa bingung dan tak memiliki kepercayaan diri. Namun, ayolah, mari kita perbaiki hubungan kita. Sering-seringlah kau menjelma dengan sifatmu yang kedua. Aku lebih suka kau yang seperti itu!

Bukan, bukan aku tak mau menerimamu apa adanya. Tetapi, kalau kita ingin menjaga hubungan ini, toh menyenangkan orang lain itu merupakan langkah yang sangat baik, bukan? Tentu saja!

Mari, kita jaga hubungan ini, hingga kelak kita dipisahkan oleh waktu (yang ku harap tak lama lagi). Jadilah sahabatku, yang memperbesar harapanku akan kualitas hidupku di masa depan. Aku percaya, setiap usaha dalam kebaikan akan dibalas pula oleh sesuatu yang baik. Mari kita tetap jaga hubungan ini, tetap dalam keadaan baik-baik, tidak kekurangan sesuatu apa pun, dan memiliki akhir kisah yang indah. Kita hampir menuju titik itu. Semoga!

Akhirnya yang hanya ingin aku katakan adalah, tetaplah menjadi teman baikku. Mari kira genggam erat tangan kita, menuju ke sana, bersama. Sedikit lagi kita mencapainya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s