Berkompromi

Sebagai manusia, yang bersubjek sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat hidup sendiri. Secara alami, manusia satu bergantung kepada manusia lain. Selalu seperti itu selama kita diberi nafas.

Dinamika berawal dari titik ini. Dalam kaitannya dengan hubungan antar manusia, di sana manusia satu dituntun dapat berkompromi dengan manusia lain.

Adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Esa, manusia diberi akal dan hati. Memiliki keinginan, pikiran, dan niat yang bervariasi. Tiap manusia secara khas memiliki isi hati dan pikirannya. Yang tahu adalah dirinya sendiri.

Dalam berhubungan dengan manusia lain, ketergantungan dan kebutuhan antar manusia menciptakan fase kompleks, integrasi antara isi hati manusia satu dengan yang lain. Pada titik ini, kedua pihak mesti bisa saling berkompromi, agar tercipta hubungan yang selaras.

Tetapi, perbedaan budaya antar manusia membuat tingkat kompromi berbeda pula. Bagi manusia satu, mungkin ia dapat memperjuangkan kompromi hingga rela berkorban untuk mencapai persetujuan. Namun, tidak halnya dengan manusia kedua. Ia lebih memilih mempertahankan isi hatinya, acuh tak acuh terhadap isi hati manusia pertama. Dia bahkan tidak berniat atau mengatakan “persetan” dengan kata “setuju” jika isi hatinya tidak dapat terealisasi.

Pada akhirnya, terjadi konflik antarmanusia. Dari sekadar saling acuh tak acuh, hingga saling deklarasi perang. Emosi yang membuncah menjadikan manusia dapat melakukan segala hal untuk mengekspresikannya.

Lalu di mana solusinya?

Solusinya adalah kontemplasi. Bercermin kepada diri sendiri, bersimpati pada manusia lain. Mungkin jika fase kontemplasi ini telah dilakukan pun, kata mufakat tidak tercapai. Namun setidaknya, ada rasa ikhlas yang mendasarinya. Setidaknya hubungan kedua antarmanusia tersebut tetap baik dan saling memahami satu sama lain.

Perihal kebersamaan kedua manusia tersebut, itu urusan akhir. Mungkin saja manusia satu pada akhirnya berpisah dengan manusia lain. Memilih jalan masing-masing. Kemudian tidak bersua kembali di waktu yang akan datang. Itu merupakan hasil dari kompromi.

Tetaplah berjuang..

Advertisements

One thought on “Berkompromi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s